Sehari di Taman Hutan Kota Langsa

Mendung melingkupi Desa Paya Bujok Seuleumak, Kecamatan Langsa Baro, Kota Langsa, Rabu (20/6/2018) siang. Meski begitu, tempat ini dipenuhi ribuan orang. Puluhan kendaraan roda empat memenuhi tempat parkir. Begitu pula kendaraan roda dua. Itulah pemandangan di depan Hutan Lindung Kota Langsa. Pengunjung datang dari berbagai lokasi.

Begitu memasuki kawasan hutan lindung, wisatawan langsung dihadapkan pada pintu utama tempat membeli karcis. Harga tiket masuknya Rp 20.000 per orang. Tiga wanita didampingi dua petugas satuan polisi pamong praja membagikan karcis. “Jika digigit oleh aneka binatang nanti lapor ke kami ya. Ada klaim asuransinya,” kata seorang petugas wanita yang membagikan karcis masuk kepada Kompas.com.

Setelah masuk pintu utama, puluhan pohon jati sebesar satu rangkaian pelukan orang dewasa menyambut. Pohon itu menjulang tinggi. Di bawahnya, puluhan wisatawan menggelar tikar. Bersantai sembari makan bersama. Di sudut lain ada pondok bertingkat yang disiapkan. Namun, untuk naik ke pondok yang instagramable ini harus bayar Rp 2.000 per orang.

Kawasan seluas 10 hektar ini dibelah oleh sebuah sungai. Untuk menghubungkan keduanya terdapat satu jembatan gantung. Petugas satuan polisi pamong praja berjaga di kedua sisi jembatan. Petugas membatasi hanya 40 pengunjung yang naik ke jembatan tersebut. Hal ini karena beberapa bulan lalu, jembatan itu putus dan puluhan wisatawan jatuh ke sungai.

Di hutan lindung ini juga disediakan koleksi aneka binatang. Mulai dari buaya, ular piton, aneka burung, rusa, landak, kuda, dan lain sebagainya. Data yang diperoleh setidaknya terdapat 300 aneka tumbuhan terdapat di sana, termasuk Rafflesia arnoldii. Sebanyak 200 hewan juga bisa ditemukan di berbagai sudut taman hutan kota itu.

Para pengunjung terlihat menyusuri jalan yang telah disemen, menghubungkan satu kandang ke kandang lainnya. Sangkar burung terhubung dengan jalan semen ke sangkar ular, begitu juga dengan hewan lainnya.

Butuh tenaga ekstra untuk mengelilingi seluruh kawasan hutan itu. Untungnya, kawasan ini sejuk karena dipenuhi aneka tumbuhan. “Saya kebetulan kemari, mumpung mudik ya sekalian berkunjung,” sebut seorang pengunjung, Irwanti, asal Medan, Sumatera Utara.

Bagi Anda yang ingin bermain air, di sungai tersebut juga disediakan aneka perahu berbentuk bebek dan aneka bentuk lainnya. Tentu Anda harus membayar uang sewa perahu untuk menikmatinya. Anda juga bisa berfoto di rumah berarsitektur khas Aceh yakni Rumoh Aceh. Jangan khawatir lapar atau haus, karena di sini terdapat banyak penjaja makanan dan minuman. Kemudahan lainnya, penunjuk arah dipasang di sejumlah titik sehingga pengunjung tak tersesat.

Seorang petugas pengelola hutan lindung, Khairullah menyebutkan hari itu tercatat 10.000 pengunjung datang hingga pukul 14.00 WIB. Ini karena momen liburan Idul Fitri. “Biasanya hanya sekitar 3.000 pengunjung,” katanya.

Jarak hutan lindung dari pusat kota Langsa sekitar enam kilometer. Namun, akses jalan terbilang sempit. Jadi, pengendara yang membawa mobil berbadan besar terpaksa hati-hati ketika berpapasan dengan mobil lainnya. Khairul menyebutkan, hutan itu dibuka hingga pukul 18.00 WIB. “Semakin sore biasa semakin ramai,” pungkasnya. Jika Anda sedang berada di Langsa, tak ada salahnya mengajak sanak saudara berkunjung ke hutan lindung ini. Bisa sambil berwisata edukasi, memperkenalkan aneka flora dan fauna. Baca berikutnya

Tinggalkan sebuah komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *