WISATA LAMBADA

18 tahun usia Kota Langsa yang kini  beranjak dewasa, terus berusaha meningkatkan kesejahteraan masyarakatnya. Dengan julukan Langsa Green City , PT. Pekola sebagai Badan Usaha Milik Daerah, melihat potensi taman hutan kota di gampong Paya Bujok Seuleumak kecamatan Langsa Baro seluas 48,64 Ha sebagai aset yang strategis untuk meningkatkan pendapatan daerah melalui kegiatan wisata konservasi (eco touristm).

Pada awalnya konservasi focus pada penyelamatan hutan damar dan merbau yang umurnya ratusan tahun dan unik karena tumbuh di wilayah dataran rendah, berada di kawasan perkotaan, dan masih cukup terpelihara. Seiring perjalanan waktu, upaya konservasi diperluas dengan konservasi satwa dengan konsep mini zoo atau taman satwa yang saat ini koleksinya mencapai 29 jenis satwa, seperti rusa, buaya, kura-kura, berbagai jenis burung, ular, dan lain-lain.

Konservasi budaya Aceh juga dilakukan dengan membangun kompleks Perkampungan Aceh Tempo Dulu yang didalamnya terdapat rumah ulee balang, rumah tengku/ulama, balai meusapat, lumbung padi, dan rumah rakyat. Rumah Tengku/ulama yang sudah berusia kurang lebih  350 tahun juga difungsikan sebagai museum mini yang menyimpan benda-benda bersejarah bangsa Aceh tempo dulu, seperti Al Qur’an yang ditulis dengan tinta emas, peralatan memasak, peralatan pertanian, dan persenjataan. 

Untuk menambah daya tarik pengunjung, PT Pekola terus berinovasi untuk membangun berbagai fasilitas wahana permainan (wisata buatan), seperti: danau buatan sebagai sarana bermain bebek-bebek air, dan akan di buat danau yang lebih eksotix sebagai sarana penunjang  wahana yang lebih atraktif sekaligus inovasi dalam  pengembagan destinasi favorit Taman hutan kota Langsa.

Selain danau buatan, flying fox, sepeda gantung, jembatan ayun, rumah pohon, wall climbing, ATV, paintball, area berkuda, dan bumi perkemahan yang sudah beroperasi. Oleh karena itu PT Pekola menawarkan paket wisata 3 in 1  yaitu wisata alam, wisata buatan, dan wisata budaya  dalam satu paket yang lebih popular dengan istilah wisata LAMBADA.

Wisata Pendidikan untuk usia dini juga menjadi perhatian khusus bagi Pekola, untuk memberikan edukasi tentang lingkungan hidup baik flora maupun fauna.

Untuk tetap menjaga keseimbangan, konservasi juga dilaksanakan dengan konsisten dan berkesinambungan, pembibitan berbagai jenis tanaman keras dan hias telah disediakan pada bagian green house atau tempat pembibitan dan penyemaian, yang didukung dengan inovasi lain yaitu pengolahan pupuk kompos dari bahan daun kering yang ada di hutan kota, guna menjamin keberlangsungan program penghijauan , dengan menggunakan pupuk kompos yang diolah secara mandiri.

Inovasi ini terbukti telah mampu meningkatkan jumlah kunjungan wisata, meningkatkan pendapatan perusahaan, penyerapan tenaga kerja, dan penambahan pendapatan asli daerah Kota Langsa. Pada tahun 2020 jumlah tenaga kerja yang terlibat  sebanyak 165 orang yang semuanya diikutsertakan dalam program BPJS Ketenagakerjaan dan BPJS Kesehatan. Pendapatan perusahaan juga mengalami peningkatan dari Rp 2.825.178.256,00 pada tahun 2018 menjadi Rp 2.969.393.547,00.  Jumlah pengunjung pada tahun 2019 sebanyak 382.110 orang  yang didominasi wisatawan Sumatera Utara dan local Aceh. Sumbangan terhadap PAD tahun 2019 dalam bentuk uang yang disetor ke kas daerah sebesar Rp 98.448.616,00    dan dalam bentuk aset tetap senilai Rp 2.089.977.600,00.

Kini Terbukti dengan inovasi baru yang di gagas oleh PT. Pekola sebagai BUMD, Pemerintah Kota Langsa  Mempunyai Industri Pariwisata berbasis Lingkungan hidup yang berdampak secara langsung terhadap kesejahteraan masyarakat serta Peningkatan Pendapatan Daerah. Disamping juga masyarakat juga bisa mendapatkan manfaat dari Program CSR  di bidang Pendidikan, Lingkungan dan Olahraga.

Oleh : Tasmanov Arief

Tinggalkan sebuah komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *